Experience is the Best Teacher

1

July 17, 2012 by arlitaayu


Jadi Organizing committee suatu acara itu bener-bener tantangan yang menarik buat gw. Paling excited kalo dikasih amanah jadi panitia, apalagi kalo bukan kerja sosial alias ada bayarannya..hahahahaha. Dulu gw sempet kepikiran pengen bikin usaha Event Organizer. Tapi apa daya?? nggak ada dana dan dukungan..:D

Awalnya keinginaan itu muncul sejak keterlibatan gw jadi panitia acara pensi waktu SMA. Meskipun waktu itu SMA gw pake jasa EO, tapi panitia tetep punya peran penting dalam perencanaan hingga pelaksanaan acara. Meskipun cuma menangani acara kecil2an, tapi pengalaman itu sungguh berharga.. Dari sana gw belajar banyak hal, sampe skrg juga gw masih belajar dan terus belajar gimana caranya jadi Event Organizer handal, supaya someday cita-cita gw buka bisnis EO bisa terwujud, amiiin Ya Rabb.Lumayan… Ntar kan kalo gw married, gw g perlu bayar Wedding Organizernya…hehehe..:D

Terakhir, gw gabung dalam kepanitiaan acara workshop IT Policy dan acara family gathering kantor disaat yang bersamaan. Dua acara itu bener2 beda banget, yang satunya formal, yang satu lagi santai.

Workshop IT Policy ini adalah bagian dari activity tahunan gw di kantor. Acaranya review IT Policy, pesertanya adalah boss2 (Div Head & Dept. Head), tempatnya di hotel bintang empat di daerah Cihampelas, Bandung, panitianya cuma tiga orang.

Yang satu lagi, acara family gathering rekan2 kantor (IT Division) yang diselenggarakan rutin tiap tahun, kebetulan gw dan temen2 ITTA 9 kebagian tugas sosial ini dari Pak Boss. Acaranya dibagi di tiga tempat : Ancol (Jakarta), Labuan (Tanjung Lesung), dan Dago (Bandung). Pesertanya dari bayi, anak2, ababil, hingga bapak-bapak dan ibu-ibu (total karyawan 100an, bayangin aja berapa kalo masing2 karyawan bawa keluarga 1-2 orang). Panitianya ada enam belas orang.

Karena itu tiga minggu berturut-turut, selama weekend gw pergi ke luar kota melulu. *pantes blog kagak pernah apdet…wkwkwkwk*

Wuih, jalan2 melulu nih ya? Alhamdulillah, ini kan bagian dari pekerjaan juga, tapi dibuat enjoy, anggep aja lagi liburan sambil kerja sosial. Hahahahaha😀

Jadi panitia acara / organizing committee itu dapet apa sih? Dapet capek doang? Kapok jadi panitia? Salah besar kalo ada yang mikir kayak gitu…Jadi panitia itu banyak manfaatnya lho, beberapa manfaatnya antara lain :

Ketika kita jadi panitia suatu acara, kita bisa belajar jadi cenayang

Kok bisa? Iya dong, kita harus bisa membayangkan mau seperti apa acara kita nanti, kita harus bisa mikirin gimana nanti jalannya acara, apa aja yang mesti kita siapin, butuh perlengkapan apa aja, bagi tugas, siapa ngerjain apa, apa plan B nya kalo misal ada hal2 yang terjadi diluar rencana,  sampe sedetil2nya, sekecil apapun kalo bisa udah kepikiran. Trus kalo udah kepikiran, write down and communicate to the team! Karena kita nggak bekerja sendirian.  Supaya apa? Supaya acara berjalan dengan baik, smooth, well-coordinated dan nggak ada yang missed. Kalopun ada hal2 yang luput kita perkirakan sebisa mungkin nggak terlalu mempengaruhi jalannya acara apalagi sampe ngerusak acara. Nah, disinilah kemampuan management kita bener2 dipraktikkan. Sambil praktik, kita juga bisa belajar me-manage resources dengan baik. Manage time, manage money, manage people. Experience is the best teacher, rite?

Kedua, kita bisa belajar memahami dan mendengarkan orang lain.

Acara yang kita adain nggak akan bisa sukses kalo kita nggak bisa belajar memahami dan mendengarkan orang lain. Siapa? Tentunya peserta acara tersebut. Kalo kita nggak bisa menangkap apa sebenarnya yang mereka inginkan, kita nggak akan bisa memuaskan mereka dengan acara yang kita susun. Listen to them patiently and try to be in their shoes when they talk. Mau sebagus apa persiapan dari panitia, sebagus apa konsep acaranya, semewah apa lokasi acaranya, tapi kalo pesertanya nggak nyaman dan nggak merasa diperhatikan, buat apa capek-capek ngadain acara. Karena buat gw tolok ukur keberhasilan suatu acara itu ditentukan sepenuhnya oleh peserta, bukan panitia. Keinginan mereka harus bisa kita fasilitasi. Tapi memang sih, kita sebagai panitia nggak akan pernah bisa memenuhi permintaan semua peserta. Yang satu minta ini, yang satu minta itu. Nggak cuma butuh telinga utk mendengarkan, karena jangan sampe masuk kuping kanan keluar kuping kiri, atau malah ditelan mentah2 semua keinginan peserta. Pinter-pinternya kita aja untuk menyesuaikan agar semua senang, semua puas.

Just like Brenda Ueland, a prolific Minnesota author and columnist said,

“Listening is the gifter and great role, and the imaginative role. And the true listener is much more beloved, magnetic than the talker, and he is more effective and learns more and does more good.”

Ketiga, memperluas pergaulan.

Apapun jabatan kita dalam suatu kepanitiaan, mau ketua, sekretaris, bendahara, sie acara, sie dokumentasi sekalipun, kita pasti butuh kerjasama dengan orang lain. Baik dengan pihak internal panitia sendiri maupun eksternal. Kita bisa punya banyak kenalan mulai dari marketing hotel, marketing bus, provider catering, supir bus, penyewa alat musik, fotografer, penyanyi pengisi acara, dan masih banyak lagi orang-orang keren lainnya. Make friends sebanyak-banyaknya. Treat them well. Siapa tau next time bisa dapet diskon. Hehehehe…

Keempat, mendapat kepuasan batin.

Siapa sih yang nggak suka kerja kerasnya diapresiasi dengan baik? Kepuasan batin nggak bisa dibeli dengan uang lho..Meskipun kita dibayar mahal untuk ngadain suatu acara, tapi kalo acara itu nggak berkesan tetep aja rasanya gimana gitu, kurang puas. Kayaknya kerja kita nggak ada gunanya. Kepuasan batin itu bisa dicapai dengan cara yang bermacam-macam. Kadang dengan ngeliat peserta acara kita enjoy sama acara yang kita adain dengan kerja keras kita, itu aja udah cukup bikin kita puas kok.  Sekecil apapun kontribusi kita insya Allah bisa bermanfaat. Trust me!

Nggak cuma empat poin diatas, masih banyak lagi sebenernya hal positif yang bisa kita dapetin. Tergantung bagaimana kita menyikapinya…

There is little difference in people, but that little difference makes a big difference. The little difference is attitude. The big difference is whether it is positive or negative.

 -W. Clement Stone-

Have a good day!

One thought on “Experience is the Best Teacher

  1. […] tahunnya, which called Family Day. Tujuan wisatanya tahun ini macem2, seperti yang udah pernah gw ceritain sebelumnya. Gw ikut berpartisipasi di dua tempat, salah satunya Labuan-Tanjung Lesung, dimana pesertanya 95% […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Owner

Top Posts & Pages

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,465 other followers

%d bloggers like this: